Ketika si Cerdas kalah dengan si Beruntung

by - Desember 28, 2011

Kriiingg *bel berbunyi, tanda istirahat usai*

Wah Pa Amen mana ko ga dateng-dateng sih, ucapku.

Iya nih tumben banget yah kiko, ucap febi (teman sebangkuku)

Tak lama kemudian Pa Amen tiba di kelasku dan siap untuk belajar.

Ya, mana pekerjaan rumah kalian yang kemarin? Tanya Pa Amen kepada anal 12 Science 6.

*aku berjalan menuju meja guru untuk menyerahkan tugasku dengan cepat*

Rizki, bagus bener semua. Memang anak yang rajin. Ucap Pa Amen padaku.

Oke lusa ulangan ya tentang Getaran dan Gelombang. Ucap Pa Amen.

*dalam hatiku: Semoga aku bisa dapet nilai sempurna seperti dua ulangan fisika sebelumnya*

Aku mati-matian belajar dan tambahan fisika untuk dapat nilai sempurna di mata pelajaran ini.

Aku memang dikenal pandai fisika di kelas, walaupun aku memang terlihat biasa saja.

*ketika ulangan fisika tiba*

Aku mengerjakan dengan cepat dan tenang. Banyak teman-temanku yang ingin saja menanyakan jawabannya, tapi maaf aku hiraukan.

*ketika hasil ulangan dibagikan*

(dalam hati: Semoga usahaku ga sia-sia amiiinnn)

Rizki, selamat kamu dapat nilai sempurna 3 kali berturut-turut. Ucap Pa Amen.

Betulkah pa? Alhamdulilah usahaku tidak sia-sia. Ucapku.

Walaupun setiap ulangan harian fisika, aku selalu dapat nilai sempurna, tapi aku masih lemah dalam pelajaran biologi. Tak tau mengapa aku lemah di pelajaran hafalan L

Aku berusaha menghafal, tapi temanku yang aku lihat dia jarang sekali kulihat dia menghafal, dia selalu dapat nilai yang bagus, lah aku? Sudah maksimal usahaku tapi tetap saja aku kalah dengan dia.

Apalagi ketika UAS berjalan.

Aku yang duduk dibelakang dia, hampir setiap pelajaran yang kuisi dia selalu melihat jawabanku.

Sedih rasanya jika dia dengan enaknya melihat jawabanku.

*ketika UAS fisika, yap mata pelajaran favoritku dari SMP*

Aku memang selalu mengerjakan sendiri, karena aku tak mau ketergantungan dengan melihat jawaban orang. Inget masa depanku bagaimana jika aku terus menyontek.

*ketika Hasilnya sudah keluar*

**** 80

Rizki 65

****80

APAAA??? Aku yang sudah berusaha hanya dapat nilai segitu dibandingkan temanku yang notabenenya suka menyontek dapat nilai yang diatas aku.

Sedih. Kecewa. Kesal. Marah.

Hanya itu yang ada di pikiranku saat ini.

Lemas dan tak berdaya, hingga perlahan air mata kekecewaan ini menetes derai di pipiku.

Aku yang kata temanku yang pintar (Anggi: Juara kelas) dia bilang bahwa aku selalu cepat dan tepat mengerjakan fisika, tapi hasilnya begitu.

Aku tak kuasa menahan emosi, hingga akhirnya aku hanya bisa diam dan menangis meratapi kekecewaan ini.

Tapi beruntungnya, mereka (baca: 12 Science 6) mampu meredamkan emosiku ini, walau aku lihat tak semua yang meredamkan. Orang-orang yang nilainya bagus, pada sorak kegirangan.

Aku?

Tuhan memang sedang mengujiku, menguji untuk menahan emosi dan mencoba sabar.

Ketika emosiku meredam, aku hanya bisa berpikir, tak mengapa aku mendapatkan nilai kecil, toh ini hasil jerih payahku.

Aku sudah berusaha untuk tidak menyontek, dan mendapatkan hasil yang kurang memuaskan.

Tapi aku bangga dengan hasilnya, ini tandanya aku harus berusaha lebih dari ini.

Tuhan, terima kasih atas nikmat ini.

Aku terima, ikhlas, dan ridha mendapatkan rezeki ini.

Mungkin ‘mereka’ yang masih saja menyontek, lihat saja di kemudian hari bagaimana ‘kalian’ mengatasi kesulitan kalian di Jenjang yang lebih tinggi.

You May Also Like

0 komentar